Kumpulan Puisi Tema Bencana Alam

 

AJAIBNYA.COM – Kumpulan puisi tentang bencana alam laris dicari oleh peselancar internet beberapa minggu terakhir. Hal ini pasti sangat terkait erat dengan sejumlah musibah bencana alam yang terjadi di negeri kita.

Puisi dengan tema bencana alam memang menjadi salah satu tugas wajib yang diberikan oleh para guru kepada siswanya agar mereka secara tidak langsung bisa ikut merasakan bagaimana penderitaan akibat bencana alam yang orang lain rasakan.

Puisi tentang bencana alam sedikit banyak tentu akan memberikan inspirasi kepada kita semua untuk tetap tegar dan tabah menghadapi musibah dan cobaan dari Tuhan, serta memberikan pesan mendalam kepada setiap manusia untuk senantiasa sadar menjaga kelestarian alam.

Bencana Alam

Jika siswa-siswa bisa dengan jeli membuat naskah puisi dengan tema bencana alam, secara tidak langsung sebenarnya mereka ikut merasakan apa yang terjadi di daerah bencana.

Setidaknya dengan hal ini, kita bisa menggali kembali sisi kemanusiaan dan keprihatinan mereka untuk bersama-sama memikirkan dan mencari jalan keluar terbaik menyelesaikan masalah bencana di negeri ini.

Nah, berikut adalah beberapa contoh kumpulan puisi tema bencana alam yang bisa kita baca bersama-sama:

“Banjir Lagi..”
Lihatlah kami disini.
Berteman banjir setiap hari.
Berjalan menuju tempat pengungsian.
Mencari tempat perlindungan..

Lihatlah generasi muda bangsa.
Yang berteman banjir kesekolahnya.
Menggenangi beranda dunia.
Tapi mereka tetap merintis mimpi dunia..

Anak-anak SD yang tiada tahu apa-apa.
Akan kerakusan para pemilik kuasa.
Membabat hutan dengan jumawa.
Tertawa ditempat istananya..

Namun roda ekonomi terus berlari.
Tiada perduli akan kebanjiran ini.
Dan tetap berteman genangan air.
Dari terbit fajar hingga mentari berakhir..

Salah siapa ini terjadi.?
Para pemilir disana terus berkata.
Banjir menyebabkan kita merugi.
Sambil duduk tenang ditempat hangatnya..

Uluran tangan para penderma.
Terasa kurang dan tiada merata.
Dan pemerintah hanya berusaha.
Namun banjir tahunan tetap melanda..

Banjir yang merugikan.
Genangan air yang menyengsarakan.
Namun langkah kaki manusia.
Tetap terperosok di jalan yang sama..
Berfikir kembali dan terdiam.
Aku termangu dalam kelam..

Selain puisi di atas, masih ada puisi lainnya yang bertema bencana alam di bawah ini:

BANCANA MELANDAKU
Puisi Tanpa Nama

Lewat suara gemuruh diiringi debu bangunan yang runtuh
Tempatku nan asri terlindas habis
Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap
Kau lalap habis aku kehilangan segalanya

Mata manusia sedunia terpengarah, menatap dan heran
Memang kejadian begitu dahsyat
Bantuan dan pertolongan mengalir
Hati manusia punya nurani

Tuhan , mengapa semua ini terjadi ?
Mungkin kami telah banyak mengingkari-Mu
Mungkin kamu terlalu bangga dengan salah dan dosa
Ya, Tuhan ampunilah kami dalam segalanya

Puisi selanjutnya adalah puisi tentang bencana alam tanah longsor di Situ Gintung:

“Situ Gintung”

Tujuh puluh sembilan tahun silam.
Engkau diciptakan oleh penguasamu.
Untuk mensejahterakan, lewat airmu.
Kini..
Engaku telah rusak.
Wajah ayumu nan sirna.
Engkau dijajah.
Dipaksa untuk muram.
Airmatamu tak kuasa kau bendung.
Murkamu kau tumpahkan pada orang yang tak berdosa..

Situ Gintung, taukah kamu..
Kau marah pada orang yang salah.
Kau murka pada orang yang tak berdosa.
walaupun aku tau itu hanya peringatanmu.
Kemurkaan dan keangkaraan manusia..

Situ Gintung, aku tau kau murka.
Karena Tuan-tuanmu hanya memikirkan kampanye.
Tuan-tuanmu hanya memikirkan kursi-kursi yang empuk.
Hingga tak memperhatikanmu..

Situ Gintung..
Pikirkan tindakanmu itu.
Sawah ladang yang kau airi telah tumbuh menjadi gedung nan tinggi.
Kini..
Kau luluh lantakkan dengan murkamu.
Puaskan dirimu situ gintung..

Sekarang kau manja.
Kau senyum-senyum, kau suka, kau puas..
Setiap umat di seluruh dunia memperhatikanmu.
Melirikmu, menyapamu, memanjakanmu..
Bahkan Presiden dan para mentrinya menyambangimu..

Semua orang ingin menengokmu, kecuali aku..
Karena aku tau.
Kau hanya SITU GINTUNG.
Sebuah bendungan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia.
Dan wajar kalau dirusak pula oleh tangan-tangan manusia..
Cuma menyesal Tung Gintung..
Kenapa orang-orang tak berdosa menjadi korbanmu?

Terakhir di bawah ini adalah contoh sajak atau puisi tentang bencana alam:

“Bencana Alam”
Dalam Hangat pelukan mentari.Diri terbalut mendung keresahan.Resah bila bumi tak sudi lagi dipijak.Resah jika laut tak mampu lagi memikul airnya.Resah jika gunung tak sanggup lagi berdiri tegak.Air mata ini belum lagi kering.
Puing-puing derita masih tercicir disepanjang jalan.
Terdengar lagi jeritan saudaraku disana.
Terdengar lagi jeritan teman-temanku disana.
Terdengar lagi jeritan para sahabat-sahabatku disana.
Bencana, bencana dan bencana…

Tak henti-hentinya menggoreskan duka.
Apakah ini suatu cobaan?
Ataupun Peringatan?
Ataukah azab Tuhan?
Fikirkanlah..
Renungkan lah..
Dan bertaubatlah selagi mentari pagi masih memanancar sinarnya..

 

10 TOPIK MENARIK LAINNYA

sajak sunda sedih, kesaktian eyang surya kencana, Java tel aviv, kayu tlogosari, orang terkaya di dharmasraya, naskah drama bahasa sunda 10 orang, sunan pangkat, tokoh wayang berdasarkan weton, penguasa gaib pulau sumatera, Ki sapu angin

JANGAN LEWATKAN